www.nurfuzie.com eintannurfuzie@gmail.com

 photo kkba copy.jpg

2011-05-05

sx lagi cik en dedahkan peraniayaan terhadap wanita


TEMPO Interaktif, Nouakchott -Di Mauritania perempuan cantik adalah perempuan yang bertubuh gemuk. Selain cantik, perempuan bertubuh gendut di negara Afrika itu juga menggambarkan kemakmuran, secara sosial mereka juga lebih diterima ketimbang perempuan langsing.

Bila perempuan memiliki tubuh terlalu kurus, maka keluarganya akan memaksa mereka untuk makan, tradisi ini dikenal dengan nama Leblouh.Perempuan muda Mauritania kini berusaha menentang tradisi itu.

Salah satu perempuan yang menentang tradisi itu adalah Mariam Mint Ahmed, 25 tahun. "Sebagai generasi muda sudah saatnya kita mengakhiri tradisi yang membahayakan kehidupan kita," kata Mint Ahmed yang menikah dengan seorang pedagan dan tinggal di ibu kota Mauritania, Nouakchott.

Menurut dia banyak gadis di Mauritanis dipaksa untuk makan supaya gemuk dan bisa menikah. "Banyak dari mereka yang sakit, mereka menderita darah tinggi dan penyakit jantung," ujar Mint Ahmed.

Sambil meneteskan air mata, Mint Ahmed merasakan betapa menderitanya perempuan muda Mauritania yang dipaksa untuk makan dalam jumlah besar. "Mereka juga dipaksa meminum bergelas-gelas susu kambing atau sapi," ujarnya.

Mint Ahmed yang memiliki satu putra, tumbuh dewasa di kota Kiffa. Dia menceritakan bila para perempuan yang dipaksa gemuk ini tidak menghabiskan makanannya maka akan dihukum. Salah satu metode hukumannya, mengikat kaki sang gadis dengan tongkat. Bila tidak makan tongkat itu akan dialiri listrik.

Sedangkan Salekeha Mint Sidi mengaku mulai dipaksa untuk menggemukkan badan oleh ibunya ketika umur 13 tahun. "Dia terus menyuruhku makan daging kambing, bila aku bilang perutku akan meledak dia akan memukulku," ujarnya.

Mint Sidi menikah tahun lalu, dia memiliki seorang anak perempuan. Namun dia berjanji tidak akan melakukan hal serupa kepada anaknya apapun yang alasannya.

Para perempuan ini bukanlah kelompok yang ingin melarang leblouh, tapi mereka ingin membuka mata masyarakat Muritania bahwa tradisi tersebut sangat berisiko. Namun tidak dipungkiri Leblouh masih banyak diterapkan terutama di daerah pedesaan.

"Secara personal, saya percaya menggemukan anak perempuan lebih dari kebutuhan. Tubuh langsing membuat malu keluarga dan suku. Mereka juga sulit menarik perhatian laki-laki," kata Achetou Mint Taleb. "Saya punya dua anak perempuan dan saya gemukkan mereka sejak 10 tahun, kini mereka telah menikah, saya bangga dengan apa yang saya lakukan," ujarnya.


Mar Jubero Capdefero, kepala program gender PBB di Mauritania mengatakan bila perempuan gemuk maka dia diberi makan oleh keluarganya, mereka tidak miskin. "Ini menjadi standar kecantikan, semakin gemuk maka semakin cantik," katanya.

Menurut Capdefero, saat ini tradisi Leblouh mulai ditinggalkan oleh generasi muda terutama mereka yang tinggal di kota. Tapi dia mengakui masih ada yang mempratekkan tradisi ini dan semakin membahayakan. "Sebelumnya mereka menggunakan susu, sekarang mereka menggemukkan dengan bahan kimi yang biasa dipakai menggemukkan hewan," ujarnya.



Photobucket

1 comments:

Arif Azmi said... [Reply]

Wah.. Tak sangka macam tu pulak!?? O.o.. Thanks for sharing..

Kalau free.. Jom join segmen review blog Bebelan Saja! Tekan Sini!

Followers

About

For Advertorial, Collaborations and Review. Please Contact eintannurfuzie@gmail.com.

Get widget

Blog Archive

Labels

Jom Buat Mobile App

 photo iklan_blog3_small.png

Ads